Selasa, 05 Oktober 2010

Pengembangan Pasar Sampih Belum Bisa Dipastikan Lantaran pengelolaan masih milik perorangan



Langensari, (HR),-
Keinginan warga pasar Sampih Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, untuk penataan dan pengembangan pasar, kemungkinan masih belum dapat diwujudkan. Pasalnya, usulan keinginan warga tersebut, memerlukan proses dan memakan waktu yang panjang.
Pada edisi HR minggu lalu, warga pasar sampih mengusulkan penataan dan pengembangan pasar. Mereka beralasan, pasar sampih memiliki potensi yang sangat besar, baik bagi perekonomian masyarakat, ataupun bagi pendapatan pemerintahan desa.
Hanya saja, mereka juga mempersoalkan mahalnya retribusi pasar yang dipatok terhadap para pedagang. Sementara, fasilitas yang dimiliki pasar masih jauh dari kata nyaman.
Fasilitas yang sangat nampak jelas kurang, diantaranya lahan parkir, WC Umum, dan luas kios para pedagang. Apalagi, ketika itu, banyak warga kota yang sedang mudik membicarakan betapa becek dan kumuhnya kondisi pasar Sampih.
Dalam kesempatan yang sama, Kades Rejasari, Rofi, juga memberikan tanggapan, bahwa pengembangan dan penataan pasar dapat dilakukan oleh pihak desa, seandainya pasar tersebut dibawah pengelolaan desa.
Namun sayangnya, lahan pasar Sampih merupakan milik perorangan. Sehingga pihaknya merasa kesulitan untuk mewujudkan apa yang diinginkan oleh warga pasar.
Sementara itu, Kasie Perlindungan Konsumen, Disperindag Kota Banjar, Eman H, ketika dimintai tanggapan oleh HR, mengatakan, pihaknya tidak mengetahui secara jelas persoalan yang dialami oleh warga pasar Sampih.
Hanya saja, pihaknya berpendapat, jika pengelola pasar merupakan perorangan, maka usulan perubahan tarif retribusi dan pengembangan juga penataan pasar bisa disampaikan secara langsung dengan pengelolanya.
Di tempat terpisah, Kepala UPTD Pasar Banjar, Heri Sapari, ketika ditemui HR, Selasa (5/10), di ruang kerjanya mengatakan, pasar Sampih belum bisa mendapat bantuan dari pemerintah untuk pengembangannya, apabila masih dipegang oleh perorangan.
Terkecuali, menurut dia, ada penyerahan aset terlebih dahulu dari pengelola/ pemilik kepada pemerintah setempat. Dalam hal ini, desa sebagai leading sektor pemerintahan di desa.
Heri menjelaskan, pengembangan mungkin bisa dilaksanakan, tentunya jika kedua belah pihak, antara pihak desa dan pengelola saling menguntungkan. Dia mencontohkan, saat ini desa memiliki dana bantuan dari pemerintah untuk penguatan ekonomi.
”Bisa jadi, dana tersebut membantu pengembangan pasar. Tinggal, bagaimana komitmen dan mekanisme keuntungan pihak-pihak terkait,” ungkapnya.
Saat disinggung masalah retribusi, Heri menjelaskan, ketentuan dan penetapan retribusi pasar desa, jika pasar itu desa, ada di kebijakan pemerintah desa. Sebaliknya, jika pasar perorangan, bisa jadi kemungkinan ditentukan oleh pengelolanya.
Dia juga mengaku tidak mengetahui apa dan bagaimana, komitmen pengelola dan unsur pemerintahan setempat. Hanya saja, secara logika, dia menilai, sudah barang tentu ada istilah saling menguntungkan dalam hal itu.
”Pemerintah desa, sebagai pemilik wilayah pasti mendapat kontribusi dari pasar Sampih. Bagian ketertiban, keamanan, kebersihan dan lainnya, semua yang bersangkutan dengan pasar, pasti memiliki kontribusi,” ungkapnya.
Heri berharap, untuk memperjelas keinginan dan penyelesaian persoalan pasar Sampih, pihak pemerintahan desa, pengelola dan para pedagang bisa melakukan diskusi bersama, demi kemajuan pasar Sampih. (dn)

Akibat Lalu Lalang Truk Gelugu, Jalan Sindanggalih-Rancabulus-Panyingkiran Rusak



Langensari, (HR),-
Jalur yang menghubungkan Dusun Sindanggalih, Rancabulus dan Panyingkiran Desa Rejasari, kondisinya rusak, berlubang dan digenangi air. Padahal, jalur tersebut belum lama mendapatkan pengaspalan.
Sayangnya, kondisi jalur tersebut sudah mengganggu para pengguna jalan. Terlebih lagi, saat ini cuaca sedang tidak menentu. Sebagian besar badan jalan yang berlubang menjadi digenangi air, layaknya kolam ikan.
Taklim, seorang warga yang biasa melalui jalan tersebut, ketika ditemui HR, Selasa (5/10) mengatakan, menyayangkan jalan yang sudah mendapatkan pengaspalan, namun kondisinya sudah kembali rusak.
Apalagi, menurut dia, nampak sepanjang jalur tersebut, aspal jalan sudah banyak yang terkikis air. Akibatnya, jalanan tersebut menjadi terlihat kembali berbatu kerikil. Bahkan di beberapa titik, menjadi berlubang.
Kepada HR, Taklim menjelaskan, kondisi jalan tesebut menjadi rusak diakibatkan oleh lalu lalangnya kendaraan berat seperti truk pengangkut gelugu (kayu kelapa) yang sering memanfaatkan jalur pendek tersebut.
Untuk menjaga hal itu, dia berharap pemerintah melakukan perbaikan kembali jalan yang sangat berpengaruh bagi kelangsungan perekonomian warga sekitar. Selain itu, seyogyanya dikeluarkan juga anjuran penggunaan dan perawatan jalan bagi pengusaha/ kendaraan berat.
Dengan demikian, semua unsur pengguna jalan, masyarakat juga pemerintah bisa menjaga kondisi jalan yang baik, agar mampu bertahan dan berlangsung lama. (dn)

Penambang Pasir Bantardawa Hentikan Aktifitas Selama 3 Minggu



Akibat Curah Hujan & Debit Sungai Citanduy Tinggi,

Langensari, (HR),-
Curah hujan yang terjadi akhir-akhir ini, bagi sebagian orang membawa berkah tersendiri. Terlebih lagi, orang tersebut memiliki usaha atau penopang hidup yang bergantung pada unsur cuaca/ curah hujan.
Salah satu contohnya saja, usaha para petani yang sehari-hari hidup di daerah tadah hujan. Mereka mengandalkan datangnya hujan untuk mendapatkan penyuburan bagi lahan-lahan milik mereka.
Namun, keadaan itu berbeda dengan para penambang pasir di daerah Dusun Bantardawa Desa Rejasari, Kecamatan Langensari. Selama hampir tiga minggu ini, para penambang pasir di wilayah tersebut tidak berangkat ke Sungai Citanduy yang biasa menjadi andalan penopang hidup mereka, lantaran debit air sungai sedang tinggi.
Siman, seorang penambang sekaligus pengangkut pasir, ketika ditemui HR, Selasa (5/10), di tanggul sungai Citanduy mengatakan, dirinya bersama dengan penambang lainnya sudah hampir satu bulan ini menganggur.
Ia beralasan, curah hujan yang turun pada akhir-akhir ini menyebabkan debit sungai Citanduy menjadi tinggi. Siman khawatir, seandainya dia tetap memaksakan diri menambang pasir, dia akan mendapatkan kesulitan.
Lebih lanjut, Siman menjelaskan, para pelanggannya yang berasal dari wilayah Sidareja Jawa Tengah, Cikawung, dan beberapa daerah lainnya di Jawa Tengah dan Barat, sejak mengetahui debit air sungai tinggi, mereka mulai tidak datang.
Alasan lainnya, mereka juga mengetahui tidak adanya aktifitas penambangan pasir di Bantardawa. Akibat hal itu, para penambang pasir tidak mendapatkan penghasilan yang sedianya mereka peroleh ketika sungai sedang surut.
Seperti halnya penambang pasir, Siman menceritakan, aktifitas yang selama ini membantu menopang kebutuhan hidupnya terhenti untuk beberapa lama. Padahal, menurut dia, kebutuhan sehari-hari dirinya dan keluarga tidak bisa dihentikan.
Dari aktifitas penambangan pasir tersebut, Siman mengaku mendapatkan sejumlah uang yang lumayan cukup untuk menutupi kebutuhan dapur. Tapi, semenjak banjir (debit tinggi), dia terpaksa harus mencari jalan lain untuk menutupi kebutuhannya.
Kepada HR, Siman menceritakan pekerjaan sementara yang dilakukannya adalah mencari dan memotong kayu yang bisa dijual. Kayu-kayu yang ia cari adalah kayu yang berada di sekitar aliran sungai Citanduy.
Siman berharap, kondisi saat ini tidak berlangsung lama dan berkepanjangan. Alasannya, ia mengaku ingin kembali bekerja dan berakitifitas seperti sedia kala. (dn)

Soal Dugaan Penyelewengan Dana Bantuan Perdesaan, Kejaksaan Kembali Periksa Kades & Kadus Karyamukti



Banjar, (HR),-
Kejaksaan Negeri Kota Banjar kembali memangil pihak-pihak yang terkait dengan kasus dugaan penyelewengan dana bantuan perdesaan di Desa Karyamukti, termasuk Kepala Desa Karyamukti.
Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Kejaksaan Negeri Kota Banjar Sinta Sasanti, SH., melalui Kasi Itelejen Heru Prasetyo, SH., “Benar kami telah memanggil Kepala Desa Karyamukti untuk dimintai keterangan,” ucapnya, Selasa (5/10).
Lanjut Heru, bukan hanya Kepala Desa Karyamukti yang akan dipanggil untuk dimintai keterangan, beberapa pihak lainnya yang dianggap perlu untuk dimintai keterangan.
“Tentunya tidak hanya Kepala Desa saja yang kami panggil, kami juga akan memanggil pihak BPD Desa Karyamukti dan Kepala Dusun (Kadus) di wilayah Desa Karyamukti,” ujarnya.
Heru membantah, jika penyelidikan yang dilakukan Kejaksaan Negeri Kota Banjar,terhadap kasus penyelewengan dana bantuan perdesaan di Desa Karyamukti terkesan lambat, atau diperlambat proses pemeriksaannya.
“Itu tidak benar. Saya menargetkan penyelidikan untuk memenuhi data awal akan selesai dalam satu bulan kedepan,” ucapnya.
Namun, Heru enggan untuk menjawab mengenai kemungkinan terjadinya pelanggaran korupsi, dalam kasus dugaan penyelewengan dana bantuan desa yang dilakukan oleh Kepala Desa Karyamukti.
“Saya tidak bisa menjawab hal tersebut. Kita lihat saja kalau memang ditemukan indikasi korupsi, tentunya penyelidikan akan dilanjutkan ketingkat penyidikan, yang akan dilakukan oleh pihak Kasi Pidana Khusus (Pidsus.red),” ujarnya.
Bahkan menurut Heru, sebagai bukti tangung jawab, dirinya akan terus mengawal proses penyidikan yang akan dilakukan oleh Kasi Pidsus, terhadap kasus dugaan penyelewengan dana perdesaan di Desa Karyamukti.
“Sebagai bukti tanggung jawab, saya akan terus mengawal kasus ini hingga persidangan kelak. Kalau memang ditemukan indikasi korupsi yang disangkakan, karena semua data yang akan diajukan merupakan hasil dari penyidikan pihak kami. Maka saya mempunyai tanggung jawab untuk mengawalnya,” pungkasnya.(pjr)

Kisah Lulusan SMA & SMK Di Negeri Ini?


Generasi Muda


Setiap tahun, satu juta lebih anak muda lulusan SMA/SMK. Kemana mereka selanjutnya? Kebanyakan masuk ke dunia kerja sebagai buruh kasar bergaji pas-pasan. Ya, hanya itulah posisi yang kini disisakan industri untuk mereka.
Sirine panjang meraung-raung di udara tepat pukul 12.00. Sejurus kemudian ratusan buruh bergerombol keluar dari sebuah pabrik industri kayu. Wajah mereka tampak lelah dan berkeringat. Tepat di halaman pabrik, para buruh beristirahat sampai pukul 13.00 masuk kembali. Disaat istirahat buruh diberi makan siang, tapi yang bertugas malam diberi uang makan. Begitulah suasana pabrik di Kota Banjar. Waktu istirahat makan siang di kantin pabrik, jadi saat yang menyenangkan. “Selain makan, kami bisa sekedar meregangkan badan,” kata Ujang seorang buruh.
Bekerja di pabrik kayu lapis itu, menurut Ujang, cukup berat. Buruh bekerja mulai pukul 7 siang hingga pukul 12 bisa dibilang tak pernah henti. Selama mesin hidup, mereka terus bergerak. Seusai istirahat satu jam, mereka mulai kembali bekerja dari pukul 13 hingga pukul 16.00. Pulang ke rumah badan cape sekali. Kalau boleh memilih saya tidak mau jadi buruh. Jadi direktur aja deh, kata Ujang berseloroh.
Meski bekerja keras, hasilnya pas-pasan untuk hidup sebulan. Gaji yang diterima Ujang sebagai buruh kontrak Rp. 165.600 per minggu, jadi sebulan Ujang menerima Rp. 662.800. Ternyata UMK (Upah Minimum Kabupaten/Kota) di Kota Banjar Rp. 689.800 perbulan dan di Kabupaten Ciamis UMK Rp. 699.815, jadi penghasilan buruh di pabrik itu lebih rendah dari UMK Banjar. Itulah nasib buruh. Bagaimana sikap pemerintah daerah kepada perusahaan yang menggaji buruhnya tidak sesuai dengan UMK?.
***
Siapakah para buruh itu?. Kebanyakan mereka adalah lulusan SMA/SMK. Apa mau dikata, ijazah sekolah menengah sekarang ini hanya cukup untuk melamar pekerjaan seperti buruh pabrik, office boy atau kurir, atau pembantu rumah tangga. Padahal, dulu orang yang berijazah SMA, bisa jadi juru tulis, misalnya, bahkan ada yang bisa jadi guru.
Angka pengangguran:
Persoalannya, angka pengangguran sekarang begitu tinggi. Pengangguran usia terbuka 15 tahun di kota dan desa dengan pendidikan SMA atau sederajat pada Agustus 2009 jumlahnya nyaris 3,9 juta orang (Data Kementerian Pendidikan Nasional). Mereka harus bersaing untuk mendapatkan sejemput pekerjaan kasar. Persaingan kian ketat karena lulusan SD, SMP, SMP, SMA/SMK bahkan sarjana juga banyak yang nganggur.
Kalau dapat pekerjaan, nasib tidak langsung membaik. Pasalnya, hampir semua buruh pabrik sekarang dipekerjakan dengan sistem kontrak. Biasanya, kata Icah, buruh diikat kontrak kerja selama satu tahun. Setelah itu, kontraknya bisa diperpanjang atau dihentikan.
Jika sudah begitu, Icah pun harus kembali ke barisan para penganggur, kembali jadi orang merdeka, kata Icah sambil mengeluarkan lidahnya wee... Jadi pengangur atau orang merdeka yang memimpikan pekerjaan di negeri ini sulit. Kata Icah lagi, bukankah negeri ini, bukan lautan tapi kolam susu, negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. (Adi)

Astri Anak Muda Yang Pantang Menyerah


Kehidupan

Lulus sekolah, lalu bekerja menjadi karyawan. Pola semacam itu dilakukan hampir sebagian besar lulusan sekolah menengah. Namun sebagian anak muda memilih jalan lain.

Laporan: Abdulloh Muklis

Astri (25) yang memilih jadi wiraswasta kecil-kecilan dibidang kerajinan membikin sandal japit bermotif boneka dan buah-buahan, dan membuat tempat pensil bermotif, juga kantong bermotif batik berbahan kain atau kain sopa bahan jok kursi.
Astri yang lulusan sarjana ekonomi ini, menjual sandal japit bermotif untuk anak-anak harganya Rp. 15 ribu dan dewasa Rp. 20 ribu. Harga tempat pensil dan kantong bermotif harganya tidak terlalu jauh berbeda dengan harga sandal japit bermotif.
Bersama beberapa orang pegawainya terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, Astri berwiraswasta. Tempatnya di RT 09/04 Lingkungan Parungsari, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja Kota Banjar. Astri mulai bekerja yang dibantu ibu-ibu rumah tangga itu mulai dari pukul 10.00 sampai dengan pukul 16.0, dengan memperoleh penghasilan ibu-ibu yang bekerja di Astri mendapat upah memotif sandal japit, tempat pensil, atau kantong persatuannya mendapat upah Rp. 4 ribu sehari. Para buruh diperusahaan Astri bisa menyelesaikan 20 pasang, jadi sehari tak kurang ibu-ibu bisa mengantongi Rp. 80 ribu sebagai upah borongan.
Sosok Astri ini adalah anak muda yang ulet. Sebagai seorang sarjana ekonomi, ia tak tertarik menjadi pegawai, karyawan atau buruh. Lebih senang usaha mandiri memanfaatkan ilmu yang disandangnya. Kemana Astri menjual hasil produksinya, selain ke pasar tradisional, juga ke swalayan di Banjar, Banjarsari Ciamis, Tasikmalaya bahkan sampai ke Bandung. Pasarnya melebar ke Semarang, Pemalang, dan Yogyakarta. Pengiriman barang berdasarkan order.
Namun alatnya masih manual, tapi saya tekunin saja sebelum mampu membeli peralatan yang menggunakan mesin. Itu nanti bila sudah modal besar, atau menjadi perhatian Pemkot Banjar dan perbankkan. Yang penting bekerja dulu jangan sampai menganggur, sekalipun bisa membantu ibu-ibu dalam memanfaatkan masa luangnya. ***

Jalan Luwong Baregbeg Rusak Parah


Baregbeg,(HR),-
Ruas jalan Kabupaten Ciamis yang mengubungkan baregbeg dan ke tembus daerah Ciilat kondisnya sangat memperihatinkan. Padahal kondisi jalan belum lama mendapatkan perbaikan.
Eva (23), warga Dusun Karangkendal Desa Pusakanagara, pengendara yang setiap hari melalui jalan tersebut, ketika ditemui HR, Senin (4/10) mengatakan, kondisi jalir tersebut sangat mengkhawatirkan.
Menurut Eva, selain mengganggu pengguna jalan dan kendaraan, rusaknya jalan tersebut juga seringkali menyebabkan kecelakaan.
“Saya selalu khawatir ketika melewati jalan daerah luwong itu. Karena selain rusak jalannya, juga menajak dan berbelok, sehingga sering kali pengendara motor maupun mobil harus mengalah. Jika tidak. sering terjadi kecelakaan,” ungkapnya
Eva berharap, pemerintah kab Ciamis sesegera mungkin melakukan perbaikan. Sebab jika dibiarkan terus seperti demikian, bisa membahayakan para pengguna jalan.
Kepala Desa Pusakanagara, Abdul Rozak, ketika ditemui HR, Senin (4/10) membenarkan rusaknya jalan Kabupaten yang berada di daerahnya. Dia juga mengakui, jalan tersebut sering dilalui kendaraan umum.
“Sementara ini jalan luwong belum mendapatkan perbaikan lagi. Karena perbaikan yang dilakukan hanya sampai daerah Ciaren Baregbeg saja. Padahal hampir setiap tanjakan yang ada disini juga mengalami kerusakan yang cukup parah,” katanya.
Rozak melanjutkan, meski sudah ada kerusakan, namun sampai sekarang belum ada peninjauan dari pihak Dinas Binamarga kab Ciamis, yang seharusnya menangani kerusakan seperti itu.
Supena Dipraja, Kabid PPJ Dinas Bina Marga, Kab Ciamis, ketika dikonfirmasi HR, menjelaskan, pihaknya belum bisa melakukan perbaikan jalan tersebut. Namun dia menegaskan, pihaknya telah mencanangkan perbaikan jalur tersebut pada anggaran tahun 2011.
“Sesuai anggaran DAK tahun 2011, jalan yang belum mengalami perbaikan tentunya akan menjadi prioritas. Namun, itupun dilakukan secara bertahap, sebab tidak hanya satu titik saja yang harus diperbaiki,” pungkasnya (es)

Jalan Citembong Sidamulih Rusak

Sidamulih, (HR), -
Sejumlah warga di Kecamatan Sidamulih harapkan perbaikan jalan yang menghubungkan wilayah Citembong Kecamatan Sidamulih menuju Kecamatan Parigi yang saat ini kondisinya rusak parah.
Kondisi ini telah berlangsung kurang lebih 5 tahun, dan hingga kini belum mendapat perbaikan sedikit pun.
Yuyum (30), seorang warga Citembong, ketika ditemui HR, Senin (4/10) menyatakan harapannya akan perbaikan kondisi jalan tersebut. Dengan demikian, roda transportasi bisa berjalan dengan lancer.
Kondisi jalan yang berlobang, serta aspal yang sudah bercampur dengan tanah, dan bebatuan besar menambah terjalnya jalan tersebut, terlebih lagi jika dalam keadaan hujan, jalanan dipenuhi kubangan air yang tertampung dilubang-lubang jalan.
Hal senada juga diungkapkan Kirwanto (56), warga Sidamulih, dia mengatakan, akses jalan tersebut cukup diminati warga yang hendak ke Selasari dan Parigi. Pasalnya jalur tersebut lebih dekat dibandingkan arah Pangandaran.
Ia juga berharap, pemerintah daerah melalui instansi terkait segera memperbaiki jalan tersebut. Ia yakin kalau jalan sudah baik, ekonomi masyarakat sekitar akan lebih meningkat. (Amlus)
 

blogger templates | Make Money Online